Mandailing Natal, tabagsel.redaksisatu.id – Pantai Arutaba menjadi saksi hangatnya upaya rekonsiliasi dan pembangunan di Desa Panggautan, Kecamatan Natal.
Pada Minggu sore (10/5/2026), Penjabat (Pj) Kepala Desa Panggautan, Ahmad Subhan Batubara, MM, memilih cara yang tak lazim namun efektif untuk menyerap aspirasi warga: duduk melingkar dan bakar ikan bersama para pemuda setempat.
Bukan sekadar jamuan santai, pertemuan ini menjadi panggung dialog terbuka bagi generasi muda untuk menyuarakan keresahan mereka terkait tata kelola desa.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan pemuda, Iyis, menyampaikan pesan menohok namun konstruktif. Ia menekankan agar pengelolaan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2026 tidak terjebak dalam lubang yang sama dengan periode sebelumnya.
“Kami meminta Bapak Pj Kades memastikan pengelolaan DD 2026 transparan. Jangan ada lagi kendala seperti masa lalu. Kami berharap poin dalam APBDes, mulai dari pengadaan alat olahraga hingga program pemberdayaan, benar-benar terealisasi, bukan sekadar catatan di atas kertas,” tegas Iyis.
Mendengar tuntutan tersebut, Ahmad Subhan Batubara merespons dengan tangan terbuka. Sebagai putra daerah asli Kecamatan Natal yang menetap di Desa Panggautan, Subhan mengaku memikul beban moral untuk membawa perubahan nyata.
“Saya sangat menghargai kritikan ini. Jika nanti ada langkah saya yang keliru, mohon langsung ditegur. Mari kita bahu-membahu, karena membangun desa ini tidak bisa saya lakukan sendirian,” ujar Subhan di hadapan para pemuda.
Tak hanya berjanji, Subhan langsung menelurkan langkah konkret. Ia memahami bahwa aspirasi pemuda membutuhkan wadah resmi agar memiliki kekuatan hukum.
Untuk itu, ia mengumumkan akan segera menggelar Musyawarah Desa (Musdes) pada Rabu (13/5/2026) mendatang. Agenda utamanya adalah pemilihan Ketua Pemuda secara definitif yang nantinya akan diperkuat dengan Surat Keputusan (SK) Pj Kepala Desa.
“Hari Rabu besok kita gelar Musdes. Kita ingin struktural pemuda punya legalitas yang jelas, sehingga sinergi antara pemerintah desa dan pemuda ke depannya lebih formal dan terarah,” tambahnya.
Acara yang berlangsung hingga menjelang petang ini ditutup dengan sesi diskusi santai di bibir pantai. Pertemuan ini seolah menjadi babak baru bagi Desa Panggautan, di mana aroma ikan bakar sore itu menjadi simbol cairnya komunikasi antara pemimpin dan masa depan desa. (HR)

